PESAN UNTUKMU DARIKU YANG SEDANG MERAYAKAN KEHILANGAN.
KAU MAU MEMBACANYA ATAU TIDAK ITU TERSERAH DIRIMU.
Namaku Aldi seorang mahasiswa di salah satu Universitas ternama di Kalimantan Barat. aku adalah tipe orang yang sangat introvert, bisa dibilang aku adalah orang yang pemalu. Karena sifatku yang introvert atau pemalu ini aku sangat tertutup dengan orang lain, tetapi bukan berarti saya tidak memiliki teman, hanya saja saya tidak memiliki banyak teman susah beragaul dengan orang lain. Di kampus ada seorang wanita yang kusukai namanya citra. Dia tidak terlalu cantik tapi yang membuatku suka dengannya adalah senyuman yang ketika aku melihat seakan waktu berhenti sejenak karena senyumnya yang indah, selain itu sifatnya yang baik kepada semua orang juga menjadi nilai plus kenapa aku menyukai dia. Ingin rasanya aku berkenalan dengannya, karena sifatku yang pemalu ini serasa mustahil rasanya berkenalan dengannya. Seluruh tubuhku serasa tak dapat bergerak ketika ingin menghampirinya, mukutku seakan bisu untuk berbicara dengannya. Yang bisa kulakukan hanyalah memandangnya dari kejauhan. Sampai pada suatu waktu ada momen dimana kami berbicara, walaupun hanya sekedar menanyakan tugas. Kebetulan aku dengannya itu satu kelas jadi aku bisa memandangnya setiap hari. Dari obrolan singkat tersebut aku jadi mulai berani untuk berbicara dengannya. Hari demi hari aku semakin akrab dengannya, setiap hari kami ngobrol bersama. Terkadang kami juga jalan bareng hanya untuk sekedar refreshing, hingga aku sadar perasaanku dengannya bukanlah lagi sekedar suka tapi sudah berubah menjadi cinta. Suatu hari ketika kami berdua ke taman aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Satu kalimat jawaban darinya membuat dunia seakan Hening, "Ya, aku mau" katanya. Aku bahkan tak percaya apa yang terjadi, dia ternyata menerima cintaku. bibirku seakan tak pernah berhenti untuk terus tersenyum. Tuhan seakan mengiyakan apa yang aku doakan dan semesta seakan merestui hubungan kami. Hari-hari kulalui dengan bahagia bersamanya, seminggu sekali kami selalu menghabiskan waktu bersama, aku bahkan masih tidak percaya dengan semua ini aku dengannya telah resmi berpacaran. 2 tahun sudah kami berpacaran hingga suatu waktu sifatnya telah berubah kepadaku. Dia jadi sering marah hanya karena masalah sepele. Hari demi hari selalu ada masalah dalam hubungan kami. Hingga aku memutuskan untuk berbicara empat mata dengannya. Dan pada kenyataannya dia memang ingin mengakhiri hubungan ini karena ingin fokus belajar agama. Karena niatnya yang baik akhirnya aku menyetujui untuk mengakhiri 2 tahun kisah perjalanan hubungan kami. Walaupun aku menyetujui tetapi hati kecilku seolah menangis karena berakhirnya kisah ini. Setelah putus aku sangat sedih dalam waktu yang cukup lama. Yang bisa kulakukan hanya berusaha untuk tetap tegar. Meskipun aku dengannya sudah putus sesekali aku main kerumahnya untuk silaturahmi dengan keluarganya, aku terbilang cukup akrab dengan keluarganya terutama kedua orang tuanya. Hari berganti, bulan berganti aku masih belum bisa move on, terlalu banyak kenangan bersamanya yang melekat dalam pikiranku. Hingga pada suatu hari aku melihat dia jalan dengan cowok lain, dan salah satu temannya bilang "Itu pacar Citra yang baru" jlebbb hatiku seakan hancur mendengarnya, "Dia sengaja mutusin kamu al agar bisa jadian dengan cowok itu" lanjut temannya bicara. Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi, aku tak percaya apa yang aku dengar barusan. Wanita yang sangat aku cintai yang memberi alasan palsu ternyata hanyalah seorang brengsek. Aku lebih terima mengakhiri hubungan karena ada orang lain daripada dia mencari alasan membawa membawa agama. Hari-hariku sangat hancur meskipun ingin melupakannya kenanganku dengannya selalu saja menghantui dalam pikiran. Aku seakan berfikir "Ada rasa rindu kepada aku yang dulu, aku yang belum mengenal dia, aku yang belum terlanjur jatuh hati kepadanya lalu patah karenanya". Hari demi hari kulalui dengan kegalauan yang tak kunjung reda "Berulang kali aku ingin menghapus bayangnya tapi ketika melihat senyumnya selalu saja menjadi hujan deras, yang membuatku terjatuh tanpa harus tersandung terlebih dahulu". Aku jadi sering menulis karenanya "Kutitipkan kata ini dalam kertas walau tak pantas namun ku mencoba tuk tak lewat batas, Doa kita pernah serupa sebelum kehancuran menerpa. Apa kabar kamu yang pernah mencintaiku dulu? Kamu tahu aku merindukanmu, merindukan senyummu, suaramu, kabarmu, terlebih kamu" tulisku dalam sebuah buku. Hingga suatu waktu sahabatku menasihatiku "Udahlah al kamu gak bisa gini terus, kamu harus bisa lupain dia walaupun melupakan itu sangat menyakitkan" "Aku sudah pernah mencobanya namun semua itu gagal aku masih memikirkannya setiap hari" kataku. "Tak ada waktu yang cepat untuk dapat melupakan seseorang yang pernah selalu ada dalam hidupmu al. kamu harus bisa mengurangi rasa rindu itu secara perlahan setiap harinya Hingga pada akhirnya tidak ada lagi rindu yang tersisa untuknya" sahabatku menasihatiku, aku hanya bisa terdiam mendengar kata katanya, dia kemudian kembali berbicara"Ayo al Tersenyumlah, tinggalkan sedihmu itu, lupakan kekhawatiranmu itu, rayakan kehilanganmu dengan bahagia. Sakit yang kamu rasa hari ini tidak setara dengan kebahagian yang akan kamu dapat, tunggulah kejutan itu". Mendengar perkataan sahabatku ini aku tersenyum, pikiranku seakan terbuka, aku jadi semakin yakin untuk melupakan dia. "Terima kasih kawan, atas nasehatmu". beberapa bulan berlalu akhirnya aku sudah bisa move on darinya. Aku sudah tak memiliki perasaan apapun kepadanya. Pernah dia menghubungi ku hanya untuk bilang rindu, aku tau dia pasti habis putus dengan pacar barunya. Karena aku sudah tak memiliki perasaan apa apa dengannya jadi hanya ku respon seadanya. Aku sekarang sudah kembali seperti aku yang biasanya. Bahkan aku lebih bahagia sekarang karena ada sahabat yang selalu mendukungku. Perihal Cinta aku masih belum memikirkannya aku masih ingin menikmati kehidupanku yang sekarang. Dari proses Move on ku aku belajar "Aku pernah memaksa ingatan untuk menyembunyikan segala kenangan tentangnya, namun aku gagal. Setelah temanku menasihatiku aku memahami, kemudian aku paham bahwa jika melupakan bukan tentang memaksa lupa, melainkan tentang rasa ikhlas dan membiarkannya berlalu dengan sendirinya".
"Dear Citra seseorang yang pernah kucintai dulu Aku sudah bahagia sekarang. Terima kasih telah memutuskan untuk pergi. Caramu menyakitiku kemarin adalah Cara tuhan akan memberiku kebahagiaan hari ini. Terima kasih telah mengajariku Tentang Artinya Merayakan Kehilangan."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar